Friday, April 3, 2009

Joke - Menikah dengan Auditor?





Ini adalah curahan hati seorang pria yg beristrikan
seorang auditor... hahaha...[it's just a joke no
hurtfeeling]

Saya menikahi wanita yang memiliki karir profesional:
AKUNTAN PUBLIK. Ya, dia adalah seorang auditor. Dan
coba tebak apa yang dilakukannya ...

1. Dia menyuruhku untuk menggunakan metode LIFO saat
mengambil makanan yang disimpan di kulkas. Aduh ...

2. Dia menganggapku tidak berbakat dalam bermain
dengan angka. Aku sih no problem, makanya dia yang
mengurus anggaran rumah tangga. Eh, tiap akhir bulan
dia bikin invoice tagihan profesional fee sama aku.
Waktu kubilang kalau aku ini suaminya, bukan kliennya,
dia malah minta advance payment.

3. Aku heran kenapa pengeluaran terus meningkat
steadily, sehingga suatu hari, aku mengintip
kertas-kertas yang ada di ordner berlabel "Current
File". Tak heran! Dia rupanya men charge mileage
(jarak) dan overtime ke dalam anggaran rumah tangga.
Dia juga menagihkan Out of Pocket Expense ke dalamnya.
Dia gila, dan aku udah bilang itu ke dia. Eh, dia
malah bilang, "Ya enggaklah sayang, aku kan auditor ."

4. Setiap lembar kertas di rumah dicopy dan difilekan.
Alasan dia, ada peraturan yang mengharuskan dia
memaintain copy hasil kerjanya selama 10 tahun. Aku
sungguh-sungguh khawatir ...

5. Dia bilang kalau dia cinta aku, dan aku bilang
kalau aku cinta dia juga. Tapi tetap aja, dia tidak
pernah percaya. Katanya, ada kemungkinan terjadi
mis-statement. Dan dia memintaku membuat
Representation Letter mengenai masalah ini ... Duhhh

6. Tahun lalu laporan keuangan rumah kami mendapatkan
opini Qualified karena aku gak menyimpan supporting
document atas expensesku.

7. Awalnya aku heran, kenapa setiap akhir tahun selalu
berdatangan surat-surat dari seluruh famili, kolega,
termasuk warung di depan rumah. Ternyata, istriku
mengirimi Confirmation Letter kepada mereka semua.
Waktu aku protes, dia bilang, konfirmasi dari pihak
eksternal lebih realible. Cape deh ...

8. Waktu istriku masak, dia sering tidak mengikuti
resep. Bila resep bilang, tambahkan setengah sendok
garam, atau satu sendok teh gula, atau setengah gelas
air, dia selalu tidak peduli. Dia bilang kalau itu
tidak material bila dibandingkan dengan seluruh menu
yang disiapkan.

9. Aku bilang, dia itu gila. Tapi anehnya, semua orang
bilang kalau dia auditor. Di kamus, ternyata kata
"auditor" bukan sinonim untuk kata "gila". Pasti
kamusnya ketinggalan zaman.

10. Waktu kami menikah, dia memberikan Engagement
Letter padaku. Awalnya aku bilang, "Oh, makasih ya
sayang ..." Ternyata setiap tahun dia memberikan surat
yang sama. Katanya, standarnya mengharuskan dia
melakukan itu bila ada indikasi kalau aku keliru
memahami tujuan dan scope dari Engagement. Dia juga
bilang, aku tidak bisa pisah dari dia begitu saja. Dia
punya hak untuk didengar sebelum aku menunjuk orang
lain. Dan dia juga menegaskan bila aku menunjuk orang
lain menggantikan dia, maka harus ada komunikasi
antara dia dan penggantinya, agar dia bisa
menyampaikan keberatan profesionalnya. Mati kita .

11. Phew ... Kadang kala, aku berpikir, kalau dia
membahayakan going concernnya pernikahan ini. Duh ...
Kok aku jadi kebawa-bawa dia ...

12. Ku kira pernikahanku ini sudah cukup gila, tapi
ternyata ada temanku yang juga kawin dengan akuntan,
punya cerita yang lebih parah. Istrinya
mengkapitalisasi biaya pernikahan sebagai Preliminary
Expenses, dan mengamortisasinya setiap tahun.
Biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum berumah tangga,
juga dikapitalisasi sebagai biaya pra-pernikahan.
Juga, waktu yang dihabiskannya selama pacaran sebelum
menikah sedang dalam proses valuasi, untuk dimasukkan
sebagai intangible assets.

Teman-teman, berpikirlah dua kali sebelum menikahi
auditor. Kalau kau sudah berpikir dua kali dan tetap
memutuskan untuk menikahinya, pikirkan dua kali lagi.
Kau harus mempertimbangkan besar risk sebelum memulai
engagement. Duh ... Aku ternyata sudah gila.

Aku, seorang auditee seumur hidup.


Sumber : http://www.freelists.org/post/ak93-feua/Fw-Joke-Menikah-dengan-Auditor

ANAK MUDA TAK MAU JADI AKUNTAN PUBLIK





Senin, 16 Maret 2009 | 18:44 WIB
BANDUNG, KOMPAS.com
Dewan Kehormatan Ikatan Akuntansi Publik Indonesia (IAPI) Sukrisno Agoes mengatakan, profesi akuntan publik tidak diminati kalangan muda dan fresh graduate (sarjana baru).

"Dari 430 kantor akuntan publik (KAP) dan 2 koperasi jasa audit (KJA) di Indonesia, sebagian besar personelnya didominasi kalangan orang tua," katanya pada seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Padjadjaran (Unpad) di Bandung, Senin (16/3). Hadir pada kesempatan itu, Ketua IAPI Dra Tia Adityasih CPA dan sejumlah dosen Akuntansi Unpad.

Kurangnya minat kalangan muda karena profesi akuntan publik sangat berisiko. Namun, penghasilannya masih minim.

Menurut dia, risiko yang dimaksud adalah akuntan harus mampu menjaga independensi karena mengaudit laporan keuangan BUMN.

Ketua IAPI Tia Adityasih mengatakan, sampai sekarang, akuntan publik masih diatur oleh pemerintah berdasarkan keputusan Menteri Keuangan. Seharusnya, jika akuntan publik terkena kasus hukum, Departemen Keuangan harus bertanggung jawab.

Selain itu, kata dia, sekarang banyak "akuntan palsu" yang bebas membuka praktik. Ini terjadi karena belum ada pengawasan dari pemerintah, sementara "akuntan palsu" tidak bertanggung jawab kepada lembaga profesi. "Berbagai kasus hukum yang dihadapi akuntan publik masih merupakan kasus pidana, dan maksimal hukuman penjara lima tahun, padahal seharusnya menggunakan kitab undang-undang hukum perdata," katanya.

Menurut Sukrisno, jumlah akuntan publik di Indonesia masih sangat sedikit, dan tidak sebanding dengan banyaknya laporan keuangan yang harus diaudit.

Sejak disahkannya Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), akuntan publik harus mengaudit laporan keuangan semua perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS). Sedikitnya ada 87 PTN dan 2.700 PTS yang laporan keuangannya harus diaudit.

Selain itu, menjelang pemilu, akuntan publik harus mengaudit laporan keuangan partai politik, mulai dari parpol di pusat, hingga tingkat kabupaten. Padahal, jumlah akuntan publik saat ini masih sedikit. Terkait dengan kenyataan tersebut, Sukrisno kecewa terhadap pemerintah yang masih menganggap sepele profesi akuntan publik.

Guru besar Akuntansi Unpad Prof Dr Ilya Avianti, SE MSi Ak, mengatakan, pekerjaan akuntan publik memang hanya ditujukan bagi orang-orang yang "hobi akuntansi".

Meskipun penghasilan dari profesi ini sedikit. Namun, dari segi kualitas hasil kerja, akuntan publik masih jauh di atas akuntan perusahaan. "Akuntan publik berkesempatan mengaudit laporan keuangan dari berbagai bidang sehingga pada 10 tahun mendatang akan ada perbedaan kualitas antara akuntansi publik dan akuntansi perusahaan," kata Ilya.

Sumber : http://regional.kompas.com/read/xml/2009/03/16/18442586/anak.muda.tak.mau.jadi.akuntan.publik.

Vacancy Partner Kantor Akuntan Publik (KAP)

Saat ini sebuah kantor akuntan publik di Jakarta sedang mencari kandidat partner untuk bergabung. Syarat utama adalah memiliki Nomor Izin Akuntan Publik (NIAP) atau sudah bersertifikat CPA (Certified Public Accountant).

Syarat-syarat lain akan dikomunikasikan kepada kandidat partner yang berminat saja. Silahkan email CV Anda kepada kami di supriyanta@gmail.com

Waktu Jakarta, Bangkok dan Hanoi

Search Google

Jumlah Pengunjung Website

Daftar Pengunjung Website

Lokasi Pengunjung

Saat Ini On Line

Statistik Pengunjung Sejak 4 Februari 2009

free counters